Saturday, October 8, 2011

kolong jembatan layang dan jalan pemukiman


Turun dari bus malam itu, di bawah jembatan layang yang masih ramai dengan gelaran kuliner, Anisa melangkahkan kakinya ke atas trotoar yang menjadi divider  kedua jalan yang berbeda arah itu. Menjauh dari warung seafood lesehan dengan bau ikan yang menyengat, Anisa mempercepat langkahnya. Suasana malam yang masih muda merekahkan senyum di bibir mahasiswi itu. Angin yang berhembus di belakang mobil menghempas badannya. Didekapnya bagian depan jaketnya walaupun sudah tertutup retsleting. Kembali berjalan.
Dodo menabrak sepeda yang diparkir di depan sebuah rumah hingga terjatuh. Badannya berguling di atas jalan sempit yang terbuat dari batako. Mengerang kesakitan. Suara riuh teriakan dan derap kaki orang-orang di belakangnya kian mendekat. Dodo mengabaikan rasa sakitnya dan kembali berdiri. Tertatih. Kembali berlari.
Berjalan memang bukanlah cara tercepat untuk sampai ke kosnya. Namun Anisa menikmatinya. Banyak yang bisa dilihat dan dinikmati pelan-pelan ketika berjalan. Bisa berhenti sejenak untuk mengamati lebih dekat sesuatu. Demikianlah, Anisa berhenti. Seorang anak kecil putri penjual bakmi jawa bermain-main dengan seekor kecoa di belakang ibunya yang tengah memasak. Usianya baru sekitar dua tahun. Matanya tertuju pada kecoa yang terbalik itu. Penuh konsentrasi. Mulutnya tidak menutup. Jarinya yang mungil menekan-nekan perut kecoa itu. Sementara si kecoa berusaha mati-matian membalik dirinya. Sang ibu berbalik. Akhirnya si anak dimarahi. Namun tentu dia tidak peduli. Dia tidak tahu apa-apa. Anisa tersenyum kembali. Berjalan. Menerawang, dirinya juga pernah sekecil itu.

Semua orang di depannya menjadi musuhnya. Sedetik mereka heran melihat seorang pelajar SMA berlari tunggang langgang, detik berikutnya mereka berusaha meraih dan menangkapnya. Nilai Dodo yang paling tinggi dari nilai yang lain di sekolah adalah olahraga. Tidak heran kalau badannya gesit dan larinya cepat. Tidak semudah itu dia ditangkap. Jalan di depannya berupa gang sempit. Kesempatan. Dodo mempercepat larinya. Melintasi gang itu dan menemukan jalan bercabang.  Dan masing-masing cabang juga berakhir dengan gang lain. Dodo memutuskan untuk bersembunyi di belakang pagar rumah di depan gang yang beru dilewatinya. Sangat beresiko. Tapi dia butuh istirahat sejenak. Semoga jalan sempit ini membingungkan para pengejarnya. Dodo pun meringkuk. Berdoa.
Jembatan layang adalah sebuah solusi untuk menghindari kemacetan di jalan yang terutama dilintasi rel kereta api. Kendaraan kecil seperti motor, hingga kendaraan besar seperti bis kota melintas di atas dan di bawahnya. Mereka lewat atas dan mendapati perjalanan yang lancar, singkat, dan juga pemandangan kota yang indah. Sedangkan mereka yang lewat bawah terkadang kesulitan berbagi jalan dengan kendaraan lain dan juga bisa terhenti oleh kereta yang melintas. Tapi mendapati banyak kehidupan di kolong jembatan yang menawarkan tempat untuk berhenti. Tempat beristirahat.

Banyak sekali jalan sempit dan gang kecil gelap. Lalu di antaranya ada jalan dimana motor dan mobil bisa melintas. Kacau. Sama sekali terlihat ketidak-kompakan pada sistem pembangunan di daerah itu, atau di manapun. Rumah-rumah muncul satu-persatu. Kemudian di antaranya terbentuk jalan. Rumah-rumah muncul di lahan tak terpakai. Bentuknya bisa sembarang. Semua orang bisa berekspresi. Kemudian jalan menjadi apa adanya. Berkelok-kelok. Membesar mengecil.
Anisa tidak ingin cepat-cepat meninggalkan perjalanannya itu. Dia nyaman melewati kerumunan orang yang makan lesehan dan bercanda tawa, beteriak ramai, dan saling berbincang satu dengan yang lain. Ada pula yang hanya berdua. Bicara pelan-pelan, menunjuk lampu jalan, tertawa bersama. Sebuah simpul kehidupan terjadi di kolong ini. Bertemu. Dan bebas dinikmati oleh siapa saja yang mau. Dan Anisa tidak suka melewatkannya.


Dodo tertawa. Dia tiba-tiba teringat pada permainan lama dimana jagoannya dikejar-kejar banyak musuh dan arenanya adalah sebuah labirin. Dengan kelokan yang banyak. Kotak handphone yang masih baru di tangannya dia masukkan ke dalam ranselnya. Begitu buru-burunya dia sampai tidak sempat memasukkannya ke dalam tas setelah dia mengambilnya dari sebuah counter penjualan pulsa. Tentu saja tanpa permisi.
Tapi seperti semua hal yang baik, perjalanan di kolong jembatan itu pun usai. Kini Anisa berdiri di bawah lampu lalu lintas yang berwarna hijau. Semangat dirinya telah bangkit. Dia tahu bahwa kehidupan orang lain adalah generator bagi kehidupan yang lainnya. Walaupun perjalanan menikmatinya sangatlah indah, seperti halnya berjalan di kolong jembatan layang, tapi dia selalu lebih tertarik dengan apa yang akan dijumpainya ketika semua itu berakhir. Tersenyum lagi, dia mengangguk sendiri. Menyemangati dirinya dari dalam hati. Melangkah kembali turun ke jalan.

Malam tiba. Sepi. Dodo keluar dari persembunyiannya. Suara jalan raya terdengar dekat. Harapan Dodo kembali bangkit. Dia kini berjalan berhati-hati. Semua inderanya difokuskan pada suara dan gerakan sekecil apapun di sekitarnya. Keluar dari sebuah gang, Jalan raya itu terlihat. Teriakan seorang pria di ujung lain dari gang itu sontak mengagetkan Dodo. Dodo berlari lagi. Tidak butuh waktu lama sampai suara di belakangnya menjadi ramai lagi. Para pengejarnya telah bersatu-padu kembali. Tapi jalan raya itu sudah di depan mata. Dodo sudah sampai di trotoar. Lampu lalu lintas berubah merah. Dodo berlari. Turun ke jalan.

No comments:

Post a Comment