Judul multi-tafsir. First post updated from Kota Kembang.
Setelah berkutat dengan lingkungan baru yang alhamdulillah menyenangkan, akhirnya menyempatkan diri balik ke Jogja dan bawa beberapa buku yang dirasa perlu ke bandung. Kamar yang lebih kecil, kemalasan buat ngeluarin duit, dan keinginan terpendam buat bikin rak sendiri (thanks yg di jogja :) ) akhirnya berbuah bahan-bahan seadanya yg bisa ditemuin di toko bangunan.
Setelah melihat beberapa preseden. Ini foto jadinya si rak buku. Dibilang "alami" karena, yah, bahannya dari kayu dan batu bata merah (sebenernya bagusan pake batako).
List bahan : satu papan kayu borneo (bekas) panjang 2m : Rp 20.000 14 batu bata press @Rp 700 : Rp 9.800
Papan diserut, biar pasir dan bekas semen ilang, trus dipotong 4. karena bentangnya kecil (50cm), agak khawatir sama rawan goyangnya. tapi setelah diisi buku, jadi berat, dan lumayan membantu.
Keawetan? mari kita buktikan.
Beberapa yang perlu diperhatikan : buat yang memuja keindahan dan kerapian, baiknya memilih bahan yang lebih "tidak bekas". seperti kayu yang masih lebih bagusan dan batu bata yang bentuknya ngga retak dan rontok. Dan lebih memberi effort sama finishing seperti saat menyerut kayu supaya lebih halus. Overall, alhamdulillah dikasih waktu luang. akhirnya jadi juga bikin rak.
masih nyari cerpen ini; tentang seorang wanita yang lagi galau -punya masalah pribadi, percintaan kayaknya-, malam-malam rumahnya yang ada di tepi sungai tiba-tiba terseret arus sungai yang kebetulan pas banjir. rumahnya terus mengapung di atas sungai yang lagi banjir itu (secara logis sih nggak masuk akal).
makin malam, wanita ini lapar. turun dari kamarnya di lantai 2 (rumahnya masih di sungai), cari makanan di dapur, tiba2 ada sesosok harimau disana!
dan ceritanya berlanjut dengan konflik pribadi (dalam batinnya si wanita sendiri) dan rebutan makanan dengan harimau itu. kehadiran si harimau juga akhirnya dilambangkan sebagai keadaan mental si wanita ini sendiri. tentang sosoknya dia yang perasaannya sedang menjelma seperti harimau karena geram dengan masalahnya. jadi apa itu harimau sungguhan apa jadi-jadian pun belum jelas.
tahun 2006, baca cerpen ini di ujian dadakan dengan tema 'bisakah anak yang lahir tahun '90 mengimbangi teman2 seangkatannya yg lahir '89?' baca sekali, masih terngiang-ngiang sampai sekarang.
dan karena berdasar memori yang kabur, jadi deskripsi di atas juga interpretasi yang 'kayaknya gitu'. sampai akhirnya bikin sendiri ilustrasi di atas (harusnya rumahnya berantakan ya?).
demikian. terima kasih sudah membaca. kalau sekiranya tau cerpennya, boleh diinformasikan ya. nanti ada imbalannya. dari Allah :D. salam.
kotak kotak. (sayangnya) Ide datang ketika lagi solat. posisi karpet puzzle yang ada di depan sajadah tertangkap mata dan malah keluar ide.
sebenernya dari dulu emang cari meja kecil buat naruh2 barang yang kecil2. setelah sukses sama meja botol (yang ga cukup waktu lama buat full kepake buku dkk), mulai nyari lagi. dan karpet puzzle yang dibeli sejak lama dan fungsinya cuma sebagai alas lantai ternyata bisa dibikin kotak2. ini bukan inovasi pastinya, tapi lumayan buat mainan bikin2 meja.
itu cara nyusunnya. pelajaran matematika SD. satu kubus dibuat dari 6 sisi.
sudutnya karpet persegi ini bisa dikaitin dalam wujud 3D juga.
pas. jadi 3 kotak.
meja laptop.
keunggulan lain: kalo dijejer emang makan tempat. tapi bisa ditumpuk ketiganya. dan ruangan jadi lega lagi.
beberapa waktu yang lalu, saya ikut masuk ke sebuah forum yang namanya Indonesia Sketcher (IS) Yogyakarta. jadi banyak orang yang hobi gambar atau sketsa yang ngumpul, sebulan sekali, nyebar di satu tempat yang jadi area yang mau di sketsa selama beberapa jam (kemarin 3jam, di stasiun Tugu). trus ngumpul, dan sharing apa yang mereka gambar masing-masing.
seru.
ini sketsa pertama saya. ceritanya suasana orang masuk keluar kereta. dengan fokus ke jam gantungnya
ini sketsa detail sebuah puncak kolom yang jadi tumpuan kuda-kuda truss. detailnya keren
kalau yang ini bukan di acara yang sama. tapi masih sama beberapa anggota IS. lokasinya di bawah jembatan Teknik UGM (yang mau ke jalan monjali)
masih di tempat yang sama. mobil merah di bawah jembatan. gambarnya agak miying.
sebelum ikutan IS, sering juga saya berkelana sendiri nye-kets. ini di Embung Tambak Boyo. Depok. UPN Babarsari Ringroad ke utara.
ceritanya coba bikin sketsa dalam waktu 5 menit. Museum Affandi. fokus ke raut dan proporsi.
Turun dari bus malam itu, di
bawah jembatan layang yang masih ramai dengan gelaran kuliner, Anisa
melangkahkan kakinya ke atas trotoar yang menjadi divider kedua jalan yang
berbeda arah itu. Menjauh dari warung seafood
lesehan dengan bau ikan yang menyengat, Anisa mempercepat langkahnya.
Suasana malam yang masih muda merekahkan senyum di bibir mahasiswi itu. Angin
yang berhembus di belakang mobil menghempas badannya. Didekapnya bagian depan
jaketnya walaupun sudah tertutup retsleting.
Kembali berjalan.
Dodo menabrak sepeda yang
diparkir di depan sebuah rumah hingga terjatuh. Badannya berguling di atas
jalan sempit yang terbuat dari batako. Mengerang kesakitan. Suara riuh teriakan
dan derap kaki orang-orang di belakangnya kian mendekat. Dodo mengabaikan rasa
sakitnya dan kembali berdiri. Tertatih. Kembali berlari.
Berjalan memang bukanlah cara
tercepat untuk sampai ke kosnya. Namun Anisa menikmatinya. Banyak yang bisa
dilihat dan dinikmati pelan-pelan ketika berjalan. Bisa berhenti sejenak untuk
mengamati lebih dekat sesuatu. Demikianlah, Anisa berhenti. Seorang anak kecil
putri penjual bakmi jawa bermain-main dengan seekor kecoa di belakang ibunya
yang tengah memasak. Usianya baru sekitar dua tahun. Matanya tertuju pada kecoa
yang terbalik itu. Penuh konsentrasi. Mulutnya tidak menutup. Jarinya yang
mungil menekan-nekan perut kecoa itu. Sementara si kecoa berusaha mati-matian
membalik dirinya. Sang ibu berbalik. Akhirnya si anak dimarahi. Namun tentu dia
tidak peduli. Dia tidak tahu apa-apa. Anisa tersenyum kembali. Berjalan.
Menerawang, dirinya juga pernah sekecil itu.
Semua orang di depannya
menjadi musuhnya. Sedetik mereka heran melihat seorang pelajar SMA berlari
tunggang langgang, detik berikutnya mereka berusaha meraih dan menangkapnya.
Nilai Dodo yang paling tinggi dari nilai yang lain di sekolah adalah olahraga.
Tidak heran kalau badannya gesit dan larinya cepat. Tidak semudah itu dia
ditangkap. Jalan di depannya berupa gang sempit. Kesempatan. Dodo mempercepat larinya. Melintasi gang itu dan
menemukan jalan bercabang. Dan
masing-masing cabang juga berakhir dengan gang lain. Dodo memutuskan untuk
bersembunyi di belakang pagar rumah di depan gang yang beru dilewatinya. Sangat
beresiko. Tapi dia butuh istirahat sejenak. Semoga jalan sempit ini
membingungkan para pengejarnya. Dodo pun meringkuk. Berdoa.
Jembatan layang adalah sebuah
solusi untuk menghindari kemacetan di jalan yang terutama dilintasi rel kereta
api. Kendaraan kecil seperti motor, hingga kendaraan besar seperti bis kota
melintas di atas dan di bawahnya. Mereka lewat atas dan mendapati perjalanan
yang lancar, singkat, dan juga pemandangan kota yang indah. Sedangkan mereka
yang lewat bawah terkadang kesulitan berbagi jalan dengan kendaraan lain dan
juga bisa terhenti oleh kereta yang melintas. Tapi mendapati banyak kehidupan
di kolong jembatan yang menawarkan tempat untuk berhenti. Tempat beristirahat.
Banyak sekali jalan sempit
dan gang kecil gelap. Lalu di antaranya ada jalan dimana motor dan mobil bisa
melintas. Kacau. Sama sekali terlihat ketidak-kompakan pada sistem pembangunan
di daerah itu, atau di manapun. Rumah-rumah muncul satu-persatu. Kemudian di
antaranya terbentuk jalan. Rumah-rumah muncul di lahan tak terpakai. Bentuknya
bisa sembarang. Semua orang bisa berekspresi. Kemudian jalan menjadi apa
adanya. Berkelok-kelok. Membesar mengecil.
Anisa tidak ingin cepat-cepat
meninggalkan perjalanannya itu. Dia nyaman melewati kerumunan orang yang makan lesehan dan bercanda tawa, beteriak
ramai, dan saling berbincang satu dengan yang lain. Ada pula yang hanya berdua.
Bicara pelan-pelan, menunjuk lampu jalan, tertawa bersama. Sebuah simpul
kehidupan terjadi di kolong ini. Bertemu. Dan bebas dinikmati oleh siapa saja
yang mau. Dan Anisa tidak suka melewatkannya.
Dodo tertawa. Dia tiba-tiba
teringat pada permainan lama dimana jagoannya dikejar-kejar banyak musuh dan
arenanya adalah sebuah labirin. Dengan kelokan yang banyak. Kotak handphone yang masih baru di tangannya
dia masukkan ke dalam ranselnya. Begitu buru-burunya dia sampai tidak sempat
memasukkannya ke dalam tas setelah dia mengambilnya dari sebuah counter penjualan pulsa. Tentu saja
tanpa permisi.
Tapi seperti semua hal yang
baik, perjalanan di kolong jembatan itu pun usai. Kini Anisa berdiri di bawah
lampu lalu lintas yang berwarna hijau. Semangat dirinya telah bangkit. Dia tahu
bahwa kehidupan orang lain adalah generator bagi kehidupan yang lainnya.
Walaupun perjalanan menikmatinya sangatlah indah, seperti halnya berjalan di
kolong jembatan layang, tapi dia selalu lebih tertarik dengan apa yang akan
dijumpainya ketika semua itu berakhir. Tersenyum lagi, dia mengangguk sendiri.
Menyemangati dirinya dari dalam hati. Melangkah kembali turun ke jalan.
Malam tiba. Sepi. Dodo keluar
dari persembunyiannya. Suara jalan raya terdengar dekat. Harapan Dodo kembali
bangkit. Dia kini berjalan berhati-hati. Semua inderanya difokuskan pada suara
dan gerakan sekecil apapun di sekitarnya. Keluar dari sebuah gang, Jalan raya
itu terlihat. Teriakan seorang pria di ujung lain dari gang itu sontak
mengagetkan Dodo. Dodo berlari lagi. Tidak butuh waktu lama sampai suara di
belakangnya menjadi ramai lagi. Para pengejarnya telah bersatu-padu kembali.
Tapi jalan raya itu sudah di depan mata. Dodo sudah sampai di trotoar. Lampu
lalu lintas berubah merah. Dodo berlari. Turun ke jalan.
selama beberapa bulan, seperempat dari kamar saya dipenuhi oleh tumpukan botol bekas A*ua yang menjadi sumber minuman saya. nggak saya buang karena saya percaya kalau mereka masih bisa saya gunakan sebagai upaya 'memanfaatkan' barang bekas. selama berbulan-bulan itu, disambi kesibukan apa-apa, botol-botol itu semakin banyak dan ide untuk merekatkan mereka satu sama lain belum juga dateng. atau dalam bahasa lain: males.
hingga akhirnya hari ini (2 oktober) sepulang dari ngontel, saya memutuskan untuk mengurus mereka karena udah mulai sumpek dan kerjaan juga sepi.
akhirnya perekat yang saya pilih adalah lakban transparan. ya. setelah berbulan-bulan. jalan akhirnya adalah lakban. pastinya ada alternatif lain yang lebih kreatif. hanya saja belum saya temukan. seperti dilihat pada gambar, fungsinya adalah sebagai meja. sebenarnya itu hanya mengakomodasi kebutuhan saya yang mulai kehabisan tempat buat menyimpan buku. tapi lebih jauhnya, meja botol ini nantinya juga menjadi tempat menaruh barang-barang lain.
karena sifatnya botol yang kuat saat diberdirikan, apalagi setelah disatukan, bahkan dapat menahan barbel 5 kilo tanpa bunyi apapun. tapi belum berani dicoba diduduki.
pemasangannya: 4 botol direkatkan dulu berjajar. lalu 4 jajar tersebut disatukan.
menjadi satu modul.
rencana lebih lanjut adalah rencana awal. yaitu furnitur yang lebih fix seperti tempat duduk, walaupun untuk anak kecil saja. perjuangan belum berakhir :D
tanggal 6-8 mei kemarin, arsitektur UGM kembali menggelar acara tahunan yang berisi pameran dengan label Pasca KKA (kuliah kerja arsitektur). SUKSES BESAR! nah, ini mengingatkan saya sama setahun lalu, kami angkatan 2007 juga ngadain acara yang sama (7-9 mei).
posisi saya waktu itu adalah tim kreatip yang alhamdulillah dipercaya untuk membuat poster kegiatan dari ukuran A3 hingga baliho. waktu itu, tema KKA kami adalah "Architecture for Public".Dan ini beberapa usulan poster yang sempat saya rundingkan dengan teman-teman. sketsa bentuknya.
toilet umum
rame2 di halte bis
ruang tunggu, halte
itu yang masih dalam oret2an. ide dasarnya : fasilitas publik dan orang banyak
ini coba bikin cuma pake tulisan. copas dari poster lain :D (tentu ga jadi)
ini ceritanya dari tabung gambar keluar orang2
pengembangan dari ide toilet umum. ada rencana mau bikin 2 versi poster waktu itu. tp gajadi
ini poster yg terpilih. kursi halte sebagai fasilitas publik. tag line-nya juga. merah sebagai warna vocalnya.ada juga yg melesetin ini gambar ember dibalik
yang jelas. di setiap karya selalu ada plus minusnya. ada yg setuju dan nggak. macem2. dan kepuasan pribadi itu bisa menutup semua itu.
Selamat malam. sebelum lembur, saya ingin share sebuah desain lagi yang, lagi-lagi, hanya wacana. kali ini adalah desain meja yang terinspirasi dari puzzle. ya, intinya, meja-meja itu bisa dilepas dan di pasang satu sama lain tergantung kebutuhan dengan mudah.
ceritanya, tahun lalu tepatnya, awalnya saya merasa di lingkungan kampus saya (Teknik Arsitektur UGM) sebenarnya merupakan tempat yang membutuhkan banyak ruang untuk mengerjakan tugas baik kuliah maupun apalah, baik sendirian maupun berbarengan. tapi ternyata tidak banyak yang disediakan untuk mengakomodasi kegiatan2 tersebut. jadilah kami bekerja di jalan depan studio,di hall, di selasar depan fotokopian, dan lainnya yang kebanyakan ga ada meja kursi. di sebuah public space di tengah kampus, ada meja dan kursi yang dapat digunakan. namun jumlahnya yang tidak banyak menyebabkan terjadinya survival of the fastest dalam menggunakannya.
kondisi meja kursi di public space tengah kampus
dari situ, saya yang kebetulan nganggur, punya ide bikin meja yang bisa digunakan saya dan teman2 buat ngerjain tugas atau sekedar mainan laptop.
(sebenarnya, inspirasinya lebih ke karpet puzzle di kamar saya). ini kondisi meja saat dipake sendirian. konsep puzzle ya dari tepian meja yang bergerigi yang tujuannya bisa dipasangkan sama meja lainnya.
meja yang dipasang jejer 3
meja yang dipasang enam. buat kelompok lebih besar.
sebagai pelengkap, di tiap unit meja ada sepasang 'colokan' (lupa namanya) buat listrik. teruuuusss, kakinya bisa dilipat, dan mejanya bisa ditumpuk di suatu sudut kalau nggak dipake.
dengan meja yang simpel ini dan gampang dibawa-bawa ini, ngerjain tugas di jalan maupun depan potokopian pun bisa pake meja.
namun, sayangnya desain ini hanya berakhir sebagai angan-angan dan belum sempet dibawa ke kajur. soalnya waktu tanya temen, baiknya disertai RAB segala. jadi tambah males. hehe.
saat ini, kampus JUTAP UGM tengah di renovasi dan kayaknya bakal ada banyak solusi buat permasalahan yang saya paparkan di atas.